Sebuah pertanyaan yang saya lontarkan untuk diri sendiri ketika akhir-akhir
ini saya merasa ‘ketergantungan’ pada media sosial. Ketika saya tidak bisa
lepas dari scrolling timeline media sosial, yang ternyata sanggup membuat waktu
menguap dalam sekejap. Huaa.
Entahlah,
ketika sedang luang ada satu ‘rutinitas’ yang saya lakukan secara refleks, yaitu
tangan meraih handphone dan kemudian membuka media sosial. Padahal sebenarnya ada
aktifitas lain yang lebih bermanfaat yang bisa saya kerjakan.
Dan saya
sempat baca sebuah artikel, kalo hal yang yang saya lakukan tersebut
menunjukkan bahwa saya adalah termasuk ke dalam kelompok orang yang suka
menunda pekerjaan. Nah lho. Hayo ngaku. Haha.
Saat ini saya
memiliki 4 akun media sosial, yaitu Facebook, Instagram, twitter dan Pinterest.
Dan keempat akun media sosial tersebut tidak benar-benar aktif semuanya. Hanya akun Instagram pribadi saja yang lebih sering saya update. Dibanding Facebook dan Twitter yang hanya saya gunakan ketika ingin share link postingan blog terbaru
atau ketika sedang mengikuti sebuah event yang mengharuskan saya melakukan live
tweet. Dan akun pinterest yang saya gunakan ketika saya membutuhkan inspirasi
berupa gambar atau quotes inspiratif.
Ya sebagai
seorang blogger, media sosial mempunyai peran penting sebagai sarana untuk
berbagi informasi yang merupakan bagian dari pekerjaan. Sebuah pekerjaan yang menyenangkan
dan saya nikmati.
Cerdas Memilah Dan Memilih Informasi Dari Media Sosial
Kehadiran media
sosial ini sebenarnya memiliki banyak manfaat. Selain sebagai sarana untuk
bersosialisasi dan bersilaturahim, melalui media sosial kita bisa mendapatkan
banyak informasi.
Namun dari
sekian banyak informasi yang disampaikan melalui media sosial, sebagai netizen
kita harus cerdas dan pintar dalam memilih dan menyerap informasi. Mana yang
benar-benar kita butuhkan. mana yang bersifat hiburan. Dan mana yang hanya
berupa berita ‘sampah’.
Dan saya
merasa, saking banyaknya informasi yang berseliweran di timeline, kepala saya kadang
seperti ‘overload’ kebanyakan informasi. Mungkin itu adalah salah satu pertanda
kalo saya harus mulai diet dari media sosial.
Sejenak Diet Media Sosial
Tak ada
salahnya kalo saya harus mulai mengurangi screen time saya untuk tidak selalu
terkoneksi dengan media sosial. Jadi sebutan screen time tak hanya berlaku
untuk anak kecil saja, tetapi sebagai orang dewasa kita juga harus belajar
dispilin menerapkan screen time untuk diri kita sendiri.
Berikut ini
jadwal no screen time yang mulai saya terapkan untuk diri sendiri, sebagai bagian
dari proses diet media sosial :
- Stop buka handphone minimal satu jam sebelum waktu tidur. Dan yang paling jitu adalah dengan mematikan handphone, sehingga tak ada istilah masih membuka-buka handphone di tempat tidur (menjelang tidur) apalagi kalo sampai ketiduran sambil pegang handphone.
- Ketika bangun tidur di pagi hari, saya menghindari langsung membuka handphone. Karena sepertinya sudah menjadi ritual bagi kebanyakan orang. Kalo setiap bangun tidur benda yang paling dicari adalah handphone. Saya mengusahakan untuk fokus pada aktifitas utama saya sebagai ibu rumah tangga yaitu mengerjakan pekerjaan rumah. Kalo udah beres barulah boleh pegang handphone. Karena jujur saya pribadi, kalo udah buka handphone apalagi medsos suka jadi lupa waktu nih.
- Ketika sedang bekerja di rumah, saya meletakkan handphone di tempat yang ga mudah dijangkau. Sehingga kita tidak terdistraksi oleh gangguan dari notifikasi handphone seperti whatsapp misalnya.
Doakan semoga
saya bisa disiplin menjalankan program diet media sosial ini. Karena walaupun saya
membutuhkan media social, ada yang lebih penting dari bersosialisasi lewat
media internet yaitu bertatap muka, bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan
orang-orang yang ada di sekeliling kita yaitu anggota keluarga di rumah, sanak
saudara dan juga teman-teman serta sahabat.
0 Comments
Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya :)
Untuk menghindari Spam yang masuk, komentarnya saya moderasi dulu ya. .